Koleksi September 2011: Kabul Beauty School

Deborah Rodriguez | Bentang | 2009

Apa yang bias dilakukan seorang penata rias saat bergabung dalam sebuah misi kemanusiaan di Afganistan? Sebuah gagasan gila terbesit di kepala Debbie : Sekolah Kecantikan.

Selama bertahun-tahun dalam pendudukan Taliban, semua peralatan kecantikan dihancurkan. Bahkan, sepotong cermin pun bias mengantarkan pemiliknya ke dalam penjara. Namun, Debbie tak gentar mewujudkannya. Ia telah menempuh hal paling mustahil sekalipun, termasuk mengumpulkan ribuan dlar berjualan kue demi sehelai tiket pesawat dan menempuh perjalanan maut menuju Afganistan.

Sekolah kecantikan juga menjadi oasis bagi para perempuan yang masih dilanda trauma. Tawa dan canda selalu riuh terdengar. Namun, di balik itu semua, masa lalu mereka yang kelam tak kunjung berhenti menghantui.

Ditulis dengan penuh humor, memoir ini mengajak kita memahami kekuatan solidaritas persaudaraan sesame perempuan.

Yasunari Kwawabata | Jalasutera | 2006

Dibalik permukaan yang setenang kolam di sebuah kuil, Keindahan dan Kesedihan (Utsukushisa To Kanashimi To) adalah sebuah ekslorasi erotis yang intens akan akibat perselingkuhan seorang lelaki yang sudah menikah dengan seorang gadis remaja. Cerita tersebut dibuka, dua puluh empat tahun setelah perselingkuhan tersebut berakhir dengan reuni sentimental dari Oki Toshio, seorang novelis sukses yang benar-benar bersembunyi di balik sastra dan klemapanan social, dengan kekasih gelapnya di masa lalu, Otoko, yang masih cantik dan kini menjadi seorang pelukis. Kegetiran yang tak kunjung hilang dari hubungan gelap mereka, yang telah menghantui mereka selama ini, meracuni segala yang ada di sekeliling mereka dan menarik masuk akal dididik Otoko, Keiko menjadi agen dari suatu drama balas dendam yang aneh.

Koleksi September 2011: FIESTA

Ernest Hemingway | Bentang | Juli 2005

Kau dengar? Muerto. Mati. Dia mati. Dengan tanduk menembus badannya. Semua demi kesenangan …

Di keriuhan fiesta dan pertunjukan adu banteng San Fermin, garis pemisah antara hidup dan mati begitu tipis. Lima ekspatriat yang hanya berniat bersenang-senang melewatkan liburan dengan mengikuti festival keagamaan yang eksotis tiba-tiba harus menghadapi berbagai hal yang mengguncang kenyamanan hidup mereka.

Satu-satunya perempuan dalam kelompok ini, Lady Brett Ashley, datng bersama tunangannya, Michael Campbell. Tapi dua lelaki lain dalam kelompok itu, Robert Cohn dan Jake Barnes juga menyimpan hati untuknya. Jalinan cinta ini semakin rumit ketika Brett tertarik kepada seorang matador bel;ia, Pedro Romero, dan ia tak bertepuk sebelah tangan.

Dalam novel semi auto biografis ini, Hemingway-yng memang merupakan penggemar fanatik adu banteng-dengan piawai merajut simbolisme pertarungan manusia-banteng ke dalam karakter dan kehidupan tokoh-tokoh tersebut. Di tengah pesta habis-habisan dan pertunjukan kematian nyaris setiap hari, mereka ditantang untuk mempertanyakan makna perburuan kesenangan, perebutan cinta, dan apa yang sesungguhnya benar-benar berarti bagi mereka.

Phutut EA dan Nurhady Sirimorok | Insist Polycy Paper Series | Agustus 2010

Oleh sebagian rakyat bencana masih dianggap sebagai persoalan takdir. Dan ternyata para elit kekuasaan pun, mungkin karena bingung dan berusaha keras menyembunyikan ketidakberdayaannya dalam mengambil tanggung jawab, malah menjadi pengkhotnah kesabaran. Padahal di dalam terori kebencanaan yang kami anut, kami beranggapan bahwa sebuah ancaman (hazard) baru akan menjadi bencana bila ia bertemu dengan kerentaan dan rendahnya kapasitas.

Dalam sepuluh tahun terakhir, terjadi peningkatan kuantitatif maupun kualitatif bencana di Indonesia. Namun, seringnya didatangi bencana, tidak banyak menimbulkan kesadaran bahwa bencana bias dicegah atau dihindari. Hal itu salah satunya disebabkan oleh model-0moidel penanganan bencana yang masih bersifat sporadic dengan tingkat koordinaso yang lemah, respon yang lambat, dan yang mendasar, tidak mampu menempatkan komunitas sebagai pelaku.

Berdasarkan pada berbagai pemikiran dan persoalan di ataslah, program Pengurangan Risiko Bencana INSIST Building Community Resiliency, dijalankan atas dukungan CORDAID sejak 2007. Isi buku di tangan Anda ini diawali dengan pandangan INSIST dalam memandang kebencanaan dan pengurangan risiko bencana yang ada di Indonesia. Selanjutnya, buku ini menampilkan cerita-cerita pengorganisasian lapangan dari 6 wilayah yang menjadi lokasi proyek. Cerita yang ditampilkan bukan hanya memuat cerita-cerita keberhasilan, namun juga memuat cerita kegagalan dalam pengorganisasian. Karena dalam keyakinan kami, semua bentuk keberhasilan dan kegagalan merupakan pembelajaran berharga.

Koleksi Juli 2011 : Diaspora Bugis di Alam Melayu Nusantara

Andi Faisal Bakti (ed.) | Penerbit Ininnawa | 2010

Perpindahan besar-besaran orang “Bugis” ke luar kampungnya di Sulawesi Selatan dimulai pada paruh kedua abad ke-17, utamanya karena perang yang berujung pada labilnya keadaan politik. Awalnya eksodus kalah perang ini menyelamatkan diri dari tindak balas dendam. Cerita tentang pengungsi ini memang lebih sering tragis, namun di balik itu ada juga cerita sukses yang spektakuler.

Buku ini merupakan kompilasi esai peneliti seperti Ahmad Sahur, Andi Faisal Bakti, Arief Subhan, Badrus Soleh, Barbara W. Andaya, Christian Pelras, Fauzan Saleh, Greg Acciaoli, Hendro Prabowo, Leonard Y Andaya, Mashiadi Said, Moh. Fahri, Yasin, dan Tonang Mallongi.

Lembaran halaman buku ini hadir untuk menjelaskan perihal diaspora Bugis di alam Melayu Nusantara. Atas keinginan sendiri mereka pindah dan hidup damai dengan membentuk komunitas yang memiliki ikatan kuat ke mana pun mereka pergi. Pendidikan Islam formal dan non formal pun mereka bentuk n dirikan.

Koleksi Juli 2011 : Max Havelaar

Multatuli | Penerjemah Andi Tenri W. | Penerbit Narasi | 2008

“Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan … bahwa banyak ibumu yang meninggal karena kesalahanku … ketika mereka berkata bahwa ayah melalaikan tugas yang telah mencuri berkah dalam kepalamu … oh, Max, Max, beritahu mereka betapa menderitanya aku!”

Multatuli merupakan nama samaran dari Eduard Douwes Dekker. Dia adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda yang pertama kali ditempatkan di wilayah Batavia (Hindia-Belanda) pada 1840. Tahun 1842 ia meminta untuk dipindahkan ke Sumatera Barat. Di tahun yang sama pula, ia dipindahkan ke Natal, Sumatera Utara, untuk bertugas sebagai Kontelir. Baru setelah itu, dirinya ditugaskan di wilayah Lebak, Banten. Selama bertugas sebagai perpanjangan tangan colonial Belanda, Doiuwes Dekker justru menolak tegas model pemerintahan Belanda. Ketidakadilan, perampasan, serta penjajahan merupakan titik awal dari kritik dan penolakannya. Seorang Douwes Dekker jauh lebih memalingkan perhatiannya kepada fenomena kelaparan, penderitaan, serta ketertindasan yang dialami rakyat pribumi di Hindia-Belanda, terutma di wilayah yang pernah menjadi tempatnya bertugas.

Buku ini ditulis Multatuli di sebuah losmen yang disewanya di Belgia, pada musim dingin di tahun 1859. Merupakan kritik tajam yang telah “membuka” sebagian besar mata public dunia, tentang betapa perihnya arti dari sebuah penindasan (kolonialisme). Dengan sebuah keyakinan yang termanifestasikan dalam ungkapan, “Ya, aku bakal dibaca”, Multatuli berjuang menghadirkan sebuah mahakarya sastra yang patut menjadi pelajaran bagi seluruh bangsa.

Muhammad Ridwan Alimuddin | Penerbit Ombak | 2011

Bagi saya, Mandar nol Kilometer adalah sarung sutera yang ditenun dengan ketelatenan nan bersahaja oleh penulisnya. Bukan hanya karena membutuhkan waktu panjang, namun juga ditenun dengan hati-hati dan menggunakan komposisi serat benang unik. Menjadikannya lebih tahan lama.

Kain sutera ini juga tampaknya sengaja dibuat untuk menjadi penambal layar bahtera sejarah Mandar dalam perjalanannya mengarung laut. Ada beberapa kebocoran, yaitu sejarah-sejarah yang tak ditemukan di buku-buku sejarah tebal. Buku ini dihadirkan untuk menambalnya, agar perjalanan Mandar dapat terus meniti waktu baik di samudera hati generasinya.

Membaca buku ini, ibarat bertamu di rumah keluarga Mandar. Tamu akan menemukan tuan rumah sedang memetik kecapi, menabuh rebana, menyaksikan tarian kuda, mendengar nyanyian merdu Mak Cammana, kisah-kisah tokohnya, cerita Mandar di tanah seberang, menyimak kisah keramah para sufi Mandar, makanan khas Mandar, semangat literasi di mandar, dan kisah lain yang ditulis secara parsial. Tetapi tetapi satu kesatuan untuk dari sejarah Mandar itu sendiri.

Buku ini wajib dibaca oleh siapa saja yang mencintai sejarah dan mandar. Saya bukan orang Mandar, tapi ketika meminum teguk demi teguk sungai ‘amandarang’ (pengetahuan Mandar) dalam buku ini, sepertinya saya menjadi Mandar. Itu adalah semangat nilai isi lontar Mandar yang mengatakan, “Bila ada orang luar yang meminum air dari Sungai Mandar, maka Mandarlah dia.”

Membacanya bagaikan membersihkan cermin. Semakin bersih, semakin kita temukan berasgam kisah penting. Yang kadang kita lupa menuliskannya. Mungkin karena itu dia hanya sejarah kecil. Ternyata, sejarah kecil itulah yang menciptakan ‘sureq’ ke-Mandaran.

Andhika Mappasomba

Pegiat Sastra Makassar

Anwar Jimpe Rachman (penyunting) | Penerbit Ininnawa | 2011

Kamis 16 November 2006, puluhan petambak dan buruh garam di Desa Santing, Indramayu, membuang sekitar 500kg garam ke aspal jalur Pantura. Mereka protes karena garam impor menjatuhkan harga garam mereka. Kejadian ini seakan menjadi ikon dari sekian banyak protes yang dilakukan petambak garam rakyat di Indonesia.

Kebijakan pemerintah meminta petambak garam Indonesia menghasilkan garam bermutu, dengan sedikit jaminan harga, kekacauan tataniaga, dan tanpa ketersediaan lahan yang memadai. Distributor dan pabrik pengolahan garam berskala kecil mengalami hal serupa. Hasilnya, harga jarang menguntungkan, mutu sulit meningkat, dan di atas segalanya, produsen dan distributor garam nasional berskala kecil tidak semakin sejahtera.

Penelitian ini menunjukkan bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah gagal mengangkat kesejahteraan para pelaku komoditas garam nasional. Mutu dan produktivitas pun jalan di tempat. Tak pelak, di tengah kealpaan subsidi dan proteksi pemerintah, ‘industri-industri bayi’ garam dalam negeri lumpuh di hadapan raksasa dari Australia, pengekspor garam terbesar ke Indonesia. Dalam kondisi ini, kebijakan terbaru Kementrian Kelautan dan perikanan yang mendahulukan swasembada garam ketimbang kesejahteraan para pelaku kecil industri garam nasional, bisa menambah soal baru.

Leo Tolstoy | Penerjemah Atta Verin | Penerbit Serambi | 2011

Buku ini memuat lima cerita terbaik Leo Tolstoy, sastrawan besar Rusia, yang bertema cinta spiritual- di mana mengasihi sesame adalah kebajikan mulia dan hanya melalui pengabdian tulus kepada sesamalah manusia bisa meraih kebahagiaan sejati.

Cerita pertama yang menjadi judul buku ini mengisahkan seorang tukang sepatu yang kecewa kepada Tuhan karena anaknya mati. Namun, pada masa tuanya ia terpanggil untuk kembali ke jalan lurus dan bercita-cita bertemu Tuhan. Dalam mimpinya, ia diperintahkan Tuhan agar melongok keluar jendela jika ingin bertemu dengan-Nya.Ternyata esoknya yang ditemuinya adalah orang-orang malang yang hidup dalam kesusahakn. Karena belas kasih, dengan tulus ia menolong mereka. Barulah ia sadar bahwa sesunguhnya Tuhan memerintahkannya agar berbuat baik kepada sesame jika ingin “bertemu Tuhan”.

Inilah sebuah kitab klasik karya maestro sastra dunia yang tak hanya meliput hati, tapi juga mencerahkan jiwa.

Ernest Hemingway | Penerjemah Yuni Kritianingsih Pramudhaningrat | Penerbit Serambi | 2009

Novel memukau yang membangkitkan optimisme ini adalah karya terbaik Ernest hemingway, pengarang legendaris Amerika dan pemenang Hadiah Nobel Sastra, sekaligus novel terakhirnya yang terbit semasa hidupnya.

Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) bercerita tentang perjuangan luar biasa seorang nelayan tua Kuba yang seorang diri berusaha menangkap ikan marlin raksasa di laut lepas setelah sebelumnya gagal menangkap seekor ikan pun selama 84 hari. Perjuangan pantang menyerah sang lelaki tua dalam mencapai tujuannya mengajarkan kepada kita betapa kesabaran, ketabahan, dan kegigihan dalam mengarungi cobaan hidup tak akan berakhir sia-sia. Kisah menyentuh ini juga diwarnai suka duka persahabatanya dengan seorang anak lelaki.

Novel yang asyik dibaca ini ditulis Hemingway saat tingga di Kuba dan berhasil menyebet Hadiah Pultizer 1953 untuk kategori fiksi serta Award of merit Medal for Novel dari American Academy of letters, sekaligus mengantarkannya meraih hadiah Nobel Sastra 1954. Sedemikian populernya novel ini sehingga berkali-kali difilmkan dan terus dibaca orang di berbagai penjuru dunia hingga saat ini.